Kemarin, 10/12/12... dua orang temanku lulus dan tanggal 5 ini akan diwisuda ... senangkah aku??senang...sangat senang sekali...aku bangga dua orang temanku yang walaupun berbeda jurusan dan fakultas telah menyelesaikan studinya di jenjang S1 jauh lebih cepat dari aku yang masih butuh 1 tahun lagi untuk menyelesaikan tanggung jawab ini.
Sedihkah aku?jawabannya IYA... pernah ada sebuah pepatah, "kita akan sedih jika teman kita gagal, kita berhasil..tapi akan lebih sedih ketika teman kita berhasil sementara kita gagal". Dalam konteks sekarang walau sekeras mungkin aku mencoba untuk menyadari bahwa aku tidak gagal,tetap saja dikepalaku aku gagal..aku gagal seperti mereka yang telah lulus duluan...walau harus kusadari aku bukan tidak bisa, tapi memang bukan kuasaku untuk membuat aku bisa lulus secepat itu.
Banyak yang stres, panik, terbebani, dll ketika temannya telah lulus dluan, ketika temannya telah memilki gelar dibelakang namanya..sebennarnya yang menjadi masalah adalah ketika kita memikirkan pandangan orang.... nah..mari kita berlogika bersama.. pemikiran2 negatif orang lain yang kita anggap akan muncul dan pikiran2 positif dari kita untuk menepisnya..
"Loh...si A udah lulus ya??kan satu angkatan dengan kamuu??kok kamu belum lulus???kan satu jurusan?"kita pasti sangat alergi, muak, takut, bahkan sebisa mungkin tidak mendapat pertanyaan seperti itu...tapi jika kita pikir2 lagi, pertanyaan seperti itu wajar muncul..sangat wajar...ketika kita sadar itu wajar..ya kita jawab sewajarnya juga.....jawabannya: "ya, si A memang rajin, jauh lebih rajin dari saya...dan dari seluruh agkatan saya dia termasuk 10 orang terajin...mungkin saya belum serajin dia, semoga saja saya cepat menyusl...doain yah..." sederhana bukan???ya kan???.. ketika pertanyaan lanjutannya datang "kok kamu ga bisa seperti dia??" pertanyaan simple yang menusuk tulang kan..hahahahah... jawabannya simple juga..."karena aku bukan dia...hahahaha"
Tapi tenang teman2....pertanyaan itu untuk orang2 yang satu jurusan dengan orang yang lulus duluan...hehehe... nah, bagaimana dengan orang2 yang satu agakatan tapi beda jurusan..seharusnya teman2 jauh lebih tenang lagi..santai, jangan panik, tapi tetap fokus... ketika pertanyaan tipe lain muncul..."kmu angkatan 2009 ya?" kok belum lulus? si A udah lulus tuh" pasti teman2 langsung "emosi" hahahaha... tinggal jawab aja ..."yah...dia kan beda jurusan dengan saya...toh di jurusann saya belum ada yang lulus satupun..hehehe" dan jika anda jurusan JURNALISTIK...FIKOM UNPAD...anda bisa COPY PASTE JAWABAN SAYA .."saya itu kuliah di Jurnalistik..jurusan terberatlah di FIKOM Unpad...(tapi itu bukan alasan sih)hahahah...gini2.. jurnalistik itu emg jurusan yang berat, tugas2nya banyak banget, tiap minggu serasa bikin skripsi, tiap minggu harus ke lapangan, dll..nah...yang bikin kita lama lulus itu, bukan karena tugasnya..tapi karena kurikulum perkuliahan membuat kita terikat dengan waktu yang lama...awal semester 8..seharusnya kita telah bisa fokus untuk menulis skripsi...tapii...kita harus melakukan Jobtraining...dan anda tahu berapa lama kita harus jobtraining>???????kotor2nya 6 bulan....fix..1 semester terpakai..sehingga tidak ada yang bisa lulus 4 tahun pas..paling cepat itu 4 tahun 3 bulan...nah dari sana dapat disimpulkan anak jurnalistik emg ga ada yang lulus 4 tahun..bukan karena tak mau...bukan karena tak mampu...bukan karena pemalas, bukan karena tak semangat..bukan tak niat...tapi TAK KUASA...hehehe"
Untuk teman2 jurusan lain..seperti sastra, fisip, kedokteran dll...kalian jangan panik, jangan cemas, jangan takut, jangan kuatir...banyak orang bilang"tak perlu lulus tepat waktu, asal lulus di waktu yang tepat"..hahaha... tapi kalian jangan lalai juga....tugas kalian di sini adalah untuk belajar, menuntut ilmu, dan pulang membawa gelar baru untuk orang tua kalian...jadi..maksimalkan apa yang kalian punya..jangan tunda2 jika kalian memang telah bisa...jangan malas ketika kalian telah punya tanggung jawab..(motivasi sendiri) heheh... lihat sekeliling anda..apakah hanya Anda yang belum lulus...??tidak kan???apakah Anda termalas di lingkungan Anda??tidak kan...??selagi teman2 masih berada di jalur yang bear..tenang saja...tujuan teman2 pasti sampai...!!!
Tidak ada yang sulit di dunia ini jika kita mau mencoba... dan yang perlu diingat..Allah tidak membebani sesuatu kepada hambanya kecuali sang hamba mampu memikulnya...okeeee...
jadii...teman kita ada yang lulus duluan.. senang boleh, sedih pun boleh...tapi senang kita harus tulus karena mereka mampu sukses lebih dulu, mampu menyelesaikan lebih dulu tanggung jawabnya, dan mampu melanjutkan masa depan lebih cepat...walau tanggung jawab yang akan dihadapi mereka jauh lebih besar...
Teman2 ku...kita untuk beberapa bulan ke depan masih berkutat dengan tugas2 kuliah yang berkaitan dengan nilai...tapi mereka yang telah lulus bisa jadi berkutat dengan tugas yang berkaitan dengan gaji dan hidup mereka...ingat sahabat...makin besar kita, makin besar tanggung jawab yang harus kita jalani....kalau maus sedih karena kita ditinggal lulus duluan juga boleh...asal dijadikan motivasi..bukan BEBAN..ingat..bukan beban...anggap saja mereka adalah orang2 yang telah sampai diseberang jurang terlebih dahulu untuk melemparkan tali pada kita untuk menyeberangi jurang juga...
Tetap semangat teman2...tetap semangat arif mulizar..hahahaha ada sesuatu dibalik senyuman kita semua, ada sesuatu dibalik ucapan selamat kita, ada sesuatu dibalik rasa bangga kita... apa itu...MOTIVASI dalam diri yang berbisik dalam hati.. "TENANG TEMAN, SEBENTAR LAGI AKU MENYUSULMU, WALAU ITU SETAHUN LAGI, YANG PENTING AKU AKAN MENYUSUL" okeeee...!!!! keep struglle and stay together... #eh
Bicara tidak hanya lewat mulut, tapi juga tulisan.. tidak mudah untuk bicara baik lisan ataupun tulisan.. public speaking, retorika, leadership, dan motivasi organisasi, . 085668911764 @Indonesia_sadar
Senin, 10 Desember 2012
Jumat, 30 November 2012
Analisis : Pengakuan Palestina Menjadi Negara Tidak Akan Membawa Perubahan yang Signifikan
Peningkatan status Palestina dari ‘entitas’ menjadi negara anggota
tidak akan membawa perubahan yang nyata bagi Palestina. Status baru ini
tidak lebih dari sekedar penyesatan politik yang akan memperpanjang
penderitaan rakyat Palestina.
Pangkal persoalan di Palestina sesungguhnya adalah keberadaan ‘entitas’ zionis Yahudi yang telah menjajah Palestina,mengusir, dan melakukan pembunuhan masal terhadap umat Islam di sana.
Segala bentuk solusi yang tidak mengarah kepada persoalan pokok ini yaitu mengusir keberadaan penjajah disana , bukanlah solusi yang sejati. Solusi selain ini sekedar untuk kepentingan elit politik Arab dan upaya memperpanjang penjajahan Palestina. Sekedar memberikan harapan-harapan palsu lewat perdamaian dan janji kemerdekaan semu.
Sebagaimana diketahui, Sidang Majelis Umum PBB, Kamis, 30 November 2012 dengan suara mayoritas mensahkan peningkatan status Palestina di PBB dari “kesatuan” jadi “negara non-anggota”. Peningkatan status ini menjadi pengakuan simbolis dan tersirat badan dunia itu terhadap negara Palestina.
Pengakuan Palestina menjadi negara merupakan bagian dari langkah usulan Amerika terhadap problem Palestina yaitu adanya dua negara merdeka di Palestina (two state solution).
Usulan Amerika ini pernah ditegaskan pada tahun 2009 oleh George Mitchell (utusan khusus AS untuk Timur Tengah) usai bertemu Presiden Mesir Husni Mubarak saat itu. Mitchell menyatakan: ‘Telah menjadi kebijakan AS bahwa solusi bagi konflik Israel-Palestina adalah solusi dua negara’ (Kompas,21/04/2009)
Solusi ini berarti merupakan pengakuan terhadap keberadaan penjajah Israel di Palestina. Solusi ini bukan hanya merupakan pengkhianatan terhadap umat Islam tapi juga pengkhianatan terhadap Allah dan Rosul-Nya. Karena tanah Palestina adalah milik umat Islam , yang dibebaskan oleh Kholifah Umar bin Khottab ra. Tidak ada satu pihakpun, baik Hamas ataupun Fatah , ataupun penguasa Arab yang berhak memberikannya kepada penjajah.
Disamping itu, pengakuan Palestina menjadi negara ini juga merupakan bagian dari strategi negara-negara Barat untuk mengangkat popularitas kelompok Fatah yang diwakili oleh Mahmud Abbas. Mengingat popularitas Abbas semakin menurun.
Sementara itu , Amerika sangat membutuhkan Abbas dan kelompok Fattahnya yang sekuler untuk menjadi operator bagi kepentingan Amerika di Palestina. Lewat Abbas dan Fattahnya, Amerika menawarkan harapan semu yang tidak berujung.
Tidak hanya itu, istilah negara untuk Palestina pun patut dipertanyakan secara de facto. Mengingat Palestina saat ini sesungguhnya belumlah memiliki kedaulatan penuh layaknya sebagai sebuah negara. Keamanan belum benar-benar di tangan ‘negara’ Palestina.
Palestina masih dalam cengkraman penjajah yahudi, yang bisa melakukan apapun sekehendak hatinya dan kapan saja untuk menyerang, menghancurkan, dan melakukan pembantaian terhadap umat Islam Palestina.
Karena itu, bagi Israel, pengakuan negara Palestina, tidak akan memberikan pengaruh apapun, karena tidak mengancam eksistensi mereka sebagai penjajah . Bahkan kalaupun Palestina menjadi anggota tetap PBB, Israel tetap akan aman. Karena di sana ada Amerika serikat yang menjadi pembela sejatinya dengan senjata hak veto. PBB tetap saja lembaga impoten yang tidak bisa melakukan apa-apa kalau berhubungan dengan kepentingan Amerika dan negara-negara pemilik hak veto lainnya.
Dan Israel sangat menyadari hal ini. Harian Yedioth Ahronoth (30/11) meremehkan pengakuan status negara Palestina dengan menyatakan : “Majelis Umum PBB, sebuah badan impoten tanpa otoritas apapun, mengeluarkan resolusi konyol dan benar-benar tidak logis yang memberikan status pengamat ke negara yang bahkan tidak ada – dan tidak akan pernah ada kecuali mencapai kesepakatan dengan Israel. Bukan dengan PBB. Dengan Israel. Tanpa persetujuan Israel tidak ada negara Palestina, terlepas dari berapa banyak negara mendukungnya di Majelis Umum”
Satu-satunya yang mengancam eksistensi ‘entitas’ penjajah Israel adalah bersatunya umat Islam dibawah naungan Khilafah yang akan menyerukan jihad fi sabilillah mengusir aggressor ini. Khilafah akan menyatukan negeri-negeri Islam dan menggerakkan tentara-tentara dari Mesir, Turki, Saudi, Iraq, Pakistan, dan negeri-negeri Islam lainnya untuk membebaskan Palestina dari penjajahan. Inilah solusi sejati yang benar-benar akan menyelesaikan persoalan Palestina. (Farid Wadjdi)
Pangkal persoalan di Palestina sesungguhnya adalah keberadaan ‘entitas’ zionis Yahudi yang telah menjajah Palestina,mengusir, dan melakukan pembunuhan masal terhadap umat Islam di sana.
Segala bentuk solusi yang tidak mengarah kepada persoalan pokok ini yaitu mengusir keberadaan penjajah disana , bukanlah solusi yang sejati. Solusi selain ini sekedar untuk kepentingan elit politik Arab dan upaya memperpanjang penjajahan Palestina. Sekedar memberikan harapan-harapan palsu lewat perdamaian dan janji kemerdekaan semu.
Sebagaimana diketahui, Sidang Majelis Umum PBB, Kamis, 30 November 2012 dengan suara mayoritas mensahkan peningkatan status Palestina di PBB dari “kesatuan” jadi “negara non-anggota”. Peningkatan status ini menjadi pengakuan simbolis dan tersirat badan dunia itu terhadap negara Palestina.
Pengakuan Palestina menjadi negara merupakan bagian dari langkah usulan Amerika terhadap problem Palestina yaitu adanya dua negara merdeka di Palestina (two state solution).
Usulan Amerika ini pernah ditegaskan pada tahun 2009 oleh George Mitchell (utusan khusus AS untuk Timur Tengah) usai bertemu Presiden Mesir Husni Mubarak saat itu. Mitchell menyatakan: ‘Telah menjadi kebijakan AS bahwa solusi bagi konflik Israel-Palestina adalah solusi dua negara’ (Kompas,21/04/2009)
Solusi ini berarti merupakan pengakuan terhadap keberadaan penjajah Israel di Palestina. Solusi ini bukan hanya merupakan pengkhianatan terhadap umat Islam tapi juga pengkhianatan terhadap Allah dan Rosul-Nya. Karena tanah Palestina adalah milik umat Islam , yang dibebaskan oleh Kholifah Umar bin Khottab ra. Tidak ada satu pihakpun, baik Hamas ataupun Fatah , ataupun penguasa Arab yang berhak memberikannya kepada penjajah.
Disamping itu, pengakuan Palestina menjadi negara ini juga merupakan bagian dari strategi negara-negara Barat untuk mengangkat popularitas kelompok Fatah yang diwakili oleh Mahmud Abbas. Mengingat popularitas Abbas semakin menurun.
Sementara itu , Amerika sangat membutuhkan Abbas dan kelompok Fattahnya yang sekuler untuk menjadi operator bagi kepentingan Amerika di Palestina. Lewat Abbas dan Fattahnya, Amerika menawarkan harapan semu yang tidak berujung.
Tidak hanya itu, istilah negara untuk Palestina pun patut dipertanyakan secara de facto. Mengingat Palestina saat ini sesungguhnya belumlah memiliki kedaulatan penuh layaknya sebagai sebuah negara. Keamanan belum benar-benar di tangan ‘negara’ Palestina.
Palestina masih dalam cengkraman penjajah yahudi, yang bisa melakukan apapun sekehendak hatinya dan kapan saja untuk menyerang, menghancurkan, dan melakukan pembantaian terhadap umat Islam Palestina.
Karena itu, bagi Israel, pengakuan negara Palestina, tidak akan memberikan pengaruh apapun, karena tidak mengancam eksistensi mereka sebagai penjajah . Bahkan kalaupun Palestina menjadi anggota tetap PBB, Israel tetap akan aman. Karena di sana ada Amerika serikat yang menjadi pembela sejatinya dengan senjata hak veto. PBB tetap saja lembaga impoten yang tidak bisa melakukan apa-apa kalau berhubungan dengan kepentingan Amerika dan negara-negara pemilik hak veto lainnya.
Dan Israel sangat menyadari hal ini. Harian Yedioth Ahronoth (30/11) meremehkan pengakuan status negara Palestina dengan menyatakan : “Majelis Umum PBB, sebuah badan impoten tanpa otoritas apapun, mengeluarkan resolusi konyol dan benar-benar tidak logis yang memberikan status pengamat ke negara yang bahkan tidak ada – dan tidak akan pernah ada kecuali mencapai kesepakatan dengan Israel. Bukan dengan PBB. Dengan Israel. Tanpa persetujuan Israel tidak ada negara Palestina, terlepas dari berapa banyak negara mendukungnya di Majelis Umum”
Satu-satunya yang mengancam eksistensi ‘entitas’ penjajah Israel adalah bersatunya umat Islam dibawah naungan Khilafah yang akan menyerukan jihad fi sabilillah mengusir aggressor ini. Khilafah akan menyatukan negeri-negeri Islam dan menggerakkan tentara-tentara dari Mesir, Turki, Saudi, Iraq, Pakistan, dan negeri-negeri Islam lainnya untuk membebaskan Palestina dari penjajahan. Inilah solusi sejati yang benar-benar akan menyelesaikan persoalan Palestina. (Farid Wadjdi)
Rabu, 21 November 2012
ALAAAH CUMA BISA BACOT!!!!
Judul di atas sangat sering saya dengar dalam pergaulan kita sehari-hari. Berbagai masalah yang ditanggapi berlebihan oleh seseorang akan mendapatkan kaliamt di atas sebagai bentuk meremehkan dan kesal dengan tanggapan yang diberikan oleh seseorang tersebut terhadap sesuatu.
Kalimat tersebut merupakan bentuk kekesalan terhadap seseorang yang dinilai hanya bisa berbicara, up date status di FB n twitter atau demonstrasi di jalan. Namun, perlu digarisbawahi..kalau perlu ditebalkan, dimiringkan dan hurufnya dibikin besar..(hahah) apa yang mereka kerjakan lebih baik daripada Anda-anda yang berkata "Alaaaaah cuma bisa bacot" INGAT ..!!!JAUH LEBIH BAIK.simak uraian di bawah ini... terkait kasus serangan kafir Israel ke Jalur Gaza..
Pertama, mereka lebih mampu menunjukkan sikap peduli dibanding kalian yang cuma bisa diam. Mereka berani mengutarakan apa yang tersimpan dibenaknya dan memaparkannya pada orang lain. Sedangkan kalian yang cuma bisa diam, paling kalian cuma berbisik dalam hati dan menganggap hal yang dibahas tak berguna. Banyak orang yang pake status, PP, dan lainnya dengan kata2 save GAZA...itu jauh lebih baik daripada anda yang berpikiran "alaaaaaaahhh sok2 an peduli gaza...kuliah aja dlu yang benar" ini kesalahn konsep berpikir stadium parah di kepala Anda...mereka seperti itu karena peduli dengan nasib saudara sesama muslim, bukan untuk sok-sok an atau ingin di nilai bermoral. CAMKAN ITU!!
Kedua, dengan mereka nulis status, dan lain2..mereka bisa menyadarkan orang2 di sekitar mereka bahwa ada kejadian yang harus mereka lebih pdeulikan daripada main poker, atau chat ga penting ma orang ga dikenal.. ketika kalian yang tengah asik main poker, farm ville atau semacamnya baca statusnya anda malah mengatakan..."alaaaaaaaaaahh bacot doang" ...ingat mereka berusaha menyadarkan anda-anda kaum otak dangkal untuk lebih paham masalah dunia dan masalah aqidah
Ketiga, jangan remehkan kata-kata..jangan remehkan aksi lewat propaganda..Nabi Muhammad Dakwah di mekah hanya lewat kata-kata dan sembunyi2...jadi jika kalian meremehkan kata2..sama saja kalian ingkar fakta. Aksi yang dilakukan dengan demo jauh lebih baik daripada diam..mungkin kalian berpikir "BOODOH sekali kalian panas2an demo tentang GAZA" jika kalian berpikir seperti ini..lebih baik kalian sekarang berwudhu dan sholat ..mohon ampun pada Allah karena telah berpikiran seperti itu..mereka demo panas2an hanya demi satu AGAMA Allah..nah kalian????cuma duduk2 di kosan, nge rokok, main game, dll..aksi yang mereka lakukan hanya memohon pada SBY yang terhormat untuk emngirimkan pasukan ke PLAESTINA..karena yang perlu kalian INGAT
MEREKA TAK BUTUH AIR MATA KALIAN, MEREKA BUTUH TENTARA KALIAN...
Kalimat tersebut merupakan bentuk kekesalan terhadap seseorang yang dinilai hanya bisa berbicara, up date status di FB n twitter atau demonstrasi di jalan. Namun, perlu digarisbawahi..kalau perlu ditebalkan, dimiringkan dan hurufnya dibikin besar..(hahah) apa yang mereka kerjakan lebih baik daripada Anda-anda yang berkata "Alaaaaah cuma bisa bacot" INGAT ..!!!JAUH LEBIH BAIK.simak uraian di bawah ini... terkait kasus serangan kafir Israel ke Jalur Gaza..
Pertama, mereka lebih mampu menunjukkan sikap peduli dibanding kalian yang cuma bisa diam. Mereka berani mengutarakan apa yang tersimpan dibenaknya dan memaparkannya pada orang lain. Sedangkan kalian yang cuma bisa diam, paling kalian cuma berbisik dalam hati dan menganggap hal yang dibahas tak berguna. Banyak orang yang pake status, PP, dan lainnya dengan kata2 save GAZA...itu jauh lebih baik daripada anda yang berpikiran "alaaaaaaahhh sok2 an peduli gaza...kuliah aja dlu yang benar" ini kesalahn konsep berpikir stadium parah di kepala Anda...mereka seperti itu karena peduli dengan nasib saudara sesama muslim, bukan untuk sok-sok an atau ingin di nilai bermoral. CAMKAN ITU!!
Kedua, dengan mereka nulis status, dan lain2..mereka bisa menyadarkan orang2 di sekitar mereka bahwa ada kejadian yang harus mereka lebih pdeulikan daripada main poker, atau chat ga penting ma orang ga dikenal.. ketika kalian yang tengah asik main poker, farm ville atau semacamnya baca statusnya anda malah mengatakan..."alaaaaaaaaaahh bacot doang" ...ingat mereka berusaha menyadarkan anda-anda kaum otak dangkal untuk lebih paham masalah dunia dan masalah aqidah
Ketiga, jangan remehkan kata-kata..jangan remehkan aksi lewat propaganda..Nabi Muhammad Dakwah di mekah hanya lewat kata-kata dan sembunyi2...jadi jika kalian meremehkan kata2..sama saja kalian ingkar fakta. Aksi yang dilakukan dengan demo jauh lebih baik daripada diam..mungkin kalian berpikir "BOODOH sekali kalian panas2an demo tentang GAZA" jika kalian berpikir seperti ini..lebih baik kalian sekarang berwudhu dan sholat ..mohon ampun pada Allah karena telah berpikiran seperti itu..mereka demo panas2an hanya demi satu AGAMA Allah..nah kalian????cuma duduk2 di kosan, nge rokok, main game, dll..aksi yang mereka lakukan hanya memohon pada SBY yang terhormat untuk emngirimkan pasukan ke PLAESTINA..karena yang perlu kalian INGAT
MEREKA TAK BUTUH AIR MATA KALIAN, MEREKA BUTUH TENTARA KALIAN...
Sabtu, 10 November 2012
TEKNOLOGI DAN PLAGIARISME
Suatu
sore ketika saya berhadapan dengan
komputer dan tengah “berselancar” di dunia maya, saya menemukan sebuah humor
yang cukup “menggelitik” pikiran saya.Inilah petikan humor yang berupa dialog
antara guru dan murid. “Roni, kenapa kamu tidak mengumpulkan tugas?” tanya
seorang guru SD pagi hari di ruang kelas.”Aduh Bu, saya mau mengumpulkan tugas,
tetapi saya tidak bisa membuat tugas tersebut, sehingga tidak saya
kumpulkan”jawab sang murid dengan polos.”Kenapa kamu tidak mengerjakan tugas
tersebut?”balas sang guru.”Komputer saya rusak dua huruf bu”ujar si murid “dan
dua huruf itu huruf terpenting dalam membuat tugas bu”tambahnya.”huruf apa
itu?”sang guru penasaran.”hurf C untuk copy
dan huruf V untuk paste” jawab si
murid.
Membaca
humor di atas mungkin bisa membuat kita tersenyum atau malah tertawa
terpingkal-pingkal. Namun, perlu kita sadari humor tersebut tidak akan ada jika
hal itu tidak terjadi dalam dunia nyata, mungkin tidak akan ada murid yang
menjawab persis seperti itu, tapi dengan humor seperti ini bisa mencerminkan
bahwa fenomena plagiarisme telah menjadi hal yang lumrah dan dikenal banyak
orang, khususnya di negara ini. Tidak hanya usia dewasa tapi telah merambah ke
usia remaja bahkan anak-anak. Bisa saya katakan di sini seharusnya kita prihatin
dengan humor seperti ini, secara tidak langsung humor ini mendeskripsikan bahwa
di Indonesia budaya plagiarisme telah menjadi budaya yang lumrah dan bisa
menjadi bahan “guyonan”.
Perlu
kita kaji ulang bahwa tindak plagiarisme di Indonesia semakin marak seiring
dengan semakin majunya teknologi. Mengapa saya sebut demikian?sebagai salah
satu contoh, pelanggaran hak cipta terjadi sejak adanya mesin fotokopi, setiap
orang bisa dengan bebas memfoto kopi buku yang dia inginkan, bahkan dengan
warna dan bentuk serupa. Hak cipta yang dimaksud adalah hak eksklusif bagi
pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau
memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut
peraturan perundang-undangan (Pasal 1 angka 1 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002
tentang Hak Cipta).
Apakah
setiap orang yang memfotokopi buku telah meminta izin pada setiap pengarang
bukunya?saya rasa tidak. Bahkan menurut pengalaman pribadi saya, saya dan teman
satu kelas saya pernah menfotokopi beberapa buku dalam jumlah besar dan bisa
saya sebut mencetak ulang buku tersebut dengan harga murah, tanpa ada satupun
dari kami yang memberitahu pengarang buku tersebut. Keadaan yang membuat orang
melakukan tindak plagiarisme, di saat kebutuhan akan ilmu dari buku tersebut
sangat dibutuhkan, sementara buku tersebut sulit ditemui dipasaran atau ada
dipasaran tapi memilki harga yang sangat tinggi, dibantu dengan teknologi maka
berlangsunglah sebuah pelanggaran hak cipta.
Menurut Pasal 1 angka 2 Undang-undang Nomor 19 Tahun
2002 tentang Hak Cipta”pencipta adalah seorang atau beberapa orang secara
bersama-sama yang atas inspirasinya melahirkan suatu ciptaan berdasarkan
kemampuan pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan, atau keahlian yang
dituangkan ke dalam bentuk yang khas dan bersifat pribadi”. Pasal tersebut
dengan jelas mengatakan bahwa sesorang bisa disebut pencipta apabila dia
melahirkan suatu ciptaan bukan dengan otak atau pikiran orang lain tapi atas
kemampua dan keahliannya sendiri.
Bagaimana mungkin kita menuliskan atau mengatakan sesuatu yang bukan
berasal dari kita tanpa menuliskan berasal darimana hal tersebut? dan
seolah-olah itu berasal dari kita?
Menyambut
Hari Kekayaan Intelektual Sedunia yang jatuh tepatnya setiap tanggal 26 April yang ditetapkan oleh World Intellectual Property Organization (WIPO) sejak tahun 2001 . Pada
tanggal 26 April tahun 2000, Konvensi Pembentukan World Intellectual Property Organization (WIPO) dinyatakan
mulai berlaku. Oleh karena itu, setiap tanggal 26 April, selalu
diperingati oleh negara-negara anggota WIPO, termasuk Indonesia, sebagai World Intellectual Property Day atau
Hari Kekayaan Intelektual Sedunia. Sudah sepantasnya kita memikirkan ulang
mengenai teknologi yang semakin lama semakin membantu proses plagiarisme ini.
Teknologi
yang semakin memanjakan dan mempermudah sebuah proses palgiarisme merupakan
salah satu faktor besar berkembangnya plagiarisme dan cenderung memasyarakat.
Jangan pernah salahkan para generasi muda Indonesia yang akan lebih suka membuka
alat-alat digital mereka untuk menyalin suatu informasi dibanding masuk ke
perpustakaan dan membolak-balik buku lalu menuliskan kembali informasi yang
mereka dapatkan. Semakin banyak café yang menyediakan fasilitas hot spot akan membuat perpustakaan semakin sepi.
Lagi-lagi teknologi yang memudahkan, teknologi pula yang memalaskan orang.
Banyak hal
yang sebenarnya bisa kita lakukan saat ini untuk menghadapi “penyakit” yang
satu ini, tapi dalam hal ini dibutuhkan kerjasama yang sangat kuat dari berbagai
elemen, mulai dari pemerintah, penegak hukum, hingga masyarakat umum. Kampanye
anti plagiarisme mungkin sudah sering dilakukan tapi sekarang yang dibutuhkan
adalah tindakan nyata. Berbagai hukum telah dibuat tentang hal ini, tinggal
penerapan dan kesadaran dari masyarakat untuk menguatkan hukum ini.
Sangat
dibutuhkan dan diharapkan adanya
peningkatan pemahaman bagi kita semua untuk lebih menghargai dan menghormati
hasil karya intelektual orang lain. Selain itu, masalah pelanggaran hak
kekayaan intelektual juga akan berpengaruh terhadap gairah atau keinginan untuk
berkreasi dan berinovasi. Dengan kata lain, pelanggaran hak kekayaan intelektual
yang tidak ditindaklanjuti dengan penegakan hukum yang kuat akan menimbulkan
dampak negatif yang lambat laun akan menghancurkan negara ini.
Indonesia adalah
negara kaya, banyak hal yang bisa dibanggakan dari negara ini. Saking banyaknya
telah banyak hal-hal yang merupakan buah pikiran asli Indonesia berusaha
diambil oleh negara lain. Apakah kita akan tetap membiarkan budaya plagiarisme
ini?Apakah yang akan kita lakukan jika suatu sata nanti humor di awal tulisan
ini menjadi hal nyata yang kita dengar?
Marilah disaat
dunia akan memperingati Hari Kekayaan Intelektual ini, kita sebagia warga
negara Indonesia merenung dalam hati, apakah kita sudah bisa ikut merayakan
hari itu?Apakah kita pantas merayakan hari itu? Hanya diri kita pribadi yang
bisa menjawabnya.
Jangan jadikan
teknologi yang berkembang untuk membuat kemudahan menjadikan kita manja dan
semakin berpikiran sempit untuk menjadi seorang plagiator. Jadikanlah teknologi
sebagai alat membantu kita menjadi lebih baik dan membangun bangsa ini menjadi
bangsa yang lebih baik. Jangan menjadi manusia ctrl+c, ctrl+v lagi. Semua
bisa berubah jika kita bisa mulai dari yang kecil, mulai dari yang ada di
sekitar kita, dan mulai dari sekarang.
JURNALISME TERDIDIK
“Wan, sekolahmu kemarin rusuh ya?”, “rusuh? ga
tuh..kabar dari mana tu?”, “loh, bukannya kemarin di TV sekolahmu yang dibilang
tauran?”, “hah?salah tu berita, jangan cepat percaya berita sekarang”.
Dialog di atas hanyalah sebuah
ilustrasi yang terinspirasi dari kejadian nyata di negeri ini. Saat itu salah
satu stasiun TV ternama Indonesia melakukan kesalahan penulisan nama sekolah
yang terlibat tauran dahsyat. Hal yang sangat krusial yang efeknya sangat besar.
Satu sekolah menjadi buruk citranya, atau mendadak dicap jelek tanpa melakukan
apapun hanya karena kesalahan penulisan nama. Inilah masa di mana kecepatan
lebih diutamakan daripada ketepatan.
Ketika semua ini terjadi, yang paling
pertama disalahkan oleh orang adalah stasiun TV tersebut, dianggap tidak benar,
dianggap ceroboh atau teledor. Bagi
sebagian orang kritik dan protes orang-orang terhadap stasiun TV di berbagai
media sosial adalah hal yang biasa. Namun, bagi orang-orang yang masih peduli
dengan keadaan media massa Indonesia, hal itu ibarat sebuah tamparan keras di
muka para pekerja media massa, tepatnya para jurnalis negeri ini.
Salah satu fungsi media massa adalah
untuk memberikan informasi. Namun, informasi yang diberikan bukanlah informasi
yang sembarangan atau asal-asalan. Sebelum informasi tersebut disiarkan melalui
media massa dan disaksikan jutaan orang, informasi itu seharusnya dipastikan
terlebih dulu kebenarannya. Fakta dan data adalah hal yang harus selalu
dipastikan dan diperhatikan oleh seorang jurnalis.
Menjalankan fungsi media massa sebagi
pendidik masyarakat sudah selayaknya kaum jurnalis yang mengisi media massa
memberikan pembelajaran yang baik untuk khalayaknya. Hal-hal yang bersifat
fundamental seperti verifikasi, riset, dan observasi adalah hal yang harus
dilakukan untuk mendukung setiap hal yang disampaikan.
Menurut Ary Gunawan Usis, seorang
pemerhati media yang juga mantan wartawan dalam artikelnya tentang pendidikan
jurnalisme di Koran Tempo(18/2) bahwa
“pendidikan jurnalisme dapat dianggap sebagai hulu dari proses pengembangan
pers dan jurnalisme yang bermutu”. Penulis sangat setuju dengan pendapat ini
karena menurut penulis, semua kesalahan yang terjadi atau kegagalan-kegagalan
media massa menampilkan tayangan atau memaparkan informasi yang tidak baik atau tidak cukup benar adalah karena kurangnya pendidikan
jurnalisme yang mereka punya.
Oleh sebab itu sangat dirasa penting
untuk memperdalam dan memperkuat pondasi dasar setiap pekerja jurnalisme dalam
hal ke jurnalistikan mereka. Namun, tidak hanya orang yang berlandaskan pendidikan
jurnalisme yang bergerak di dunia jurnalisme dan menghasilkan karya-karya
jurnalistik yang bagus. Wartawan atau reporter televisi tidak semuanya memilki
dasar jurnalistik. Banyak dari jurnalis Indonesia yang pendidikan dasarnya
bukan berasal dari jurnalistik, tapi dari berbagai macam disiplin ilmu.
Seharusnya bisa dikatakan bahwa semua
isi siaran di berbagai media massa adalah tanggung jawab para lulusan dengan
ilmu yangs sesuai dengan hal tersebut, seperti para sarjana ilmu komunikasi.
Menurut beberapa alumni fakultas ilmu komunikasi di salah satu universitas di
Kota Bandung yang penulis temui, pendidikan yang ada di bangku kuliah dengan
fakta di lapangan ketika bekerja di dunia jurnalistik sangat terasa berbeda.
Mengenai perbedaan yang terjadi di
bangku kuliah dan di lapangan menurut penulis merupakan hal yang harus sangat
diperhatikan oleh lembaga pendidikan jurnalisme. Untuk menghasilkan sumber daya
berkualitas di lapangan , dibutuhkan pengetahuan mengenai lapangan secara
jelas. Jangan sampai apa yang dijelaskan di bangku kuliah malah berlawanan
dengan apa yang terjadi di lapangan. Hal ini juga merupakan faktor penyebab
tidak berkualitasnya karya jurnalistik yang dihasilkan. Kebanyakan hanya mengejar
kecepatan dan mengabaikan ketepatan.
UNESCO telah membuat sebuah panduan
untuk pendidikan jurnalistik. Dalam panduan tersebut dikatakan bahwa dalam
melakukan pendidikan jurnalisme harus diperhatikan tiga poros utama. Poros
pertama adalah poros yang mengajarkan norma, nilai, perangkat , standar, dan
praktik jurnalisme. Poros kedua menekankan pada aspek-aspek sosial, budaya,
politik, ekonomi, hukum dan etika dari praktik jurnalisme , baik di dalam
negeri maupun di luar negeri. Adapaun poros ketiga terdiri atas pengetahuan
umum mengenai dunia dan tantangan intelektual dalam dunia jurnalisme.
Berkaca dari tiga poros yang telah
ditentukan UNESCO terhadap pendidikan jurnalisme tersebut, apakah Indonesia
telah menerapkan ketiga hal tersebut dalam melaksanakan pendidikan dalam dunia
jurnalisme. Apakah jurnalis Indonesia sudah cukup memiliki etika untuk tidak
menerima amplop , atau malah memberikan nomor rekeningnya demi sebuah
pemberitaan?Apakah jurnalis Indonesia sudah cukup pengetahuan umumnya tentang
dunia?apakah jurnalis Indonesia bisa membedakan mana norma dan nilai yang harus
diperhatikannya?
Terlepas dari ketiga poros pendidikan
jurnalisme, para calon pendidik lewat media massa ini juga harus memahami
hal-hal sederhana yang sangat penting nilainya, yaitu EYD (ejaan yang
disempurnakan). Bahasa media adalah bahasa yang amat sering menjadi acuan bagi
banyak orang utnk diadopsi menjadi bahasa mereka sehari-hari. Jika bahasa yang
dipaparkan media secara terus-menerus mengalami kesalahan maka bersiaplah menerima
dampak kesalahan bahasa yang lebih besar di masyarakat.
Penulis sangat berharap agar
lembaga-lembaga yang menjalankan pendidikan jurnalisme sekarang. Seperti di
universitas-universitas negeri maupun swasta dapat dengan benar memberikan
pembelajaran yang tepat untuk para calon jurnalis. Untuk menjadi pendidik yang
baik bagi para penikmat media massa, para calon jurnalis haruslah menjadi orang
yang terdidik pula.
PAHLAWAN??
Lagi-lagi untuk kesekian kalinya
Indonesia “menyumbangkan” salah satu budaya asli di negara ini ke negara lain.
Tarian yang selama ini menjadi cirri khas sebuah daerah di Indonesia diakui
oleh Malaysia sebagai tarian asli dari Malaysia. Apa yang terjadi dengan
Indonesia?apakah negara ini benar-benar telah berubah menjadi negara
lemah?Tidak adakah kekuatan bangsa ini untuk mempertahankan apa yang dimilkinya
agar tidak diganggu dan diambil oleh bangsa lain?
Jawaban dari pertanyaan itu mungkin
sederhana, bagaimana mungkin pemerintah atau rakyat Indonesia secara
keseluruhan memerhatikan budayanya jika banyak hal yang harus diperhatikan. kemarin Indonesia memeringati Hari Pahlwan, berbagai
wacana, cita dan harapan diumbar di Hari Pahlwan tersebut.
Segudang permasalahan politik, ekonomi, budaya, hukum, dan lainnya telah
menenggelamkan Indonesia di lautan masalah yang membuatnya sulit untuk naik ke
permukaan. Indonesia seolah-olah tidak tahu bagaimana menyelesaikan
permasalahan demi permasalahan dengan baik. Menghadapi sebuah kasus, semisal kasus terbunuhnya aktifis HAM Munir
yang telah lebih dari 7 tahun tapi belum bias terkuak dengan jelas.
Konflik horizontal sampai sekarang
masih belum bisa teratasi oleh rakyat Indonesia. Tawuran antar Ormas, tawuran
antar kampong, tawuran antar “genk”, tawuran antar agama, dan segala jenis
tawuran terus dan terus berlangsung di Indonesia tanpa henti. Jika diibaratkan
Indonesia adalah kapal selam yang ingin keluar
dari lautan masalah, maka berbagai macam konflik ini adalah pertikaian
para kru kapal selam. Bagaimana mungkin sebuah kapal selam akan berjalan dengan
baik jika awak kapal saling bertarung, menunjukkan keegoisan masing-masing,
bagaimana mungkin Indonesia bisa bangkit dan maju jika rakyat Indonesia sendiri
masih tidak bisa selaras dan membangun harmoni kehidupan yang baik?
Kesimpulan yang bisa ditarik dari
fenomena ini adalah telah sebulan sejak perintgatan Hari Kebangkitan nasional,
tapi kita tetap belum bangkit. Jika kita kaji secara mendasar Kebangkitan
Nasional adalah masa
bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme
serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia,
yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan Belanda dan
Jepang. Tapi
jika sekarang kita Hari Pahlwan hanyalah peringatan yang
dilakukan oleh beberapa oknum yang dalam hatinya mungkin tidak mengetahui apa
itu Hari Pahlwan seperti , pejabat, pegawai negeri, aparat negara,
dan orang-orang yang ingin dinilai mencintai sejarah Indonesia.
Jika
dihitung Indonesia telah berkali-kali memeringati hari bersejarah ini, tepat
nya menuju peringatan ke sekian kali, tapi menurut saya semua itu hanya sebatas
perayaan, hanya sebatas mengingat di pagi hari dan sore harinya lupa bahwa hari
ini adalah 10 november. Hari Pahlwan seharusnya menjadi sumber inspirasi dan motivasi
bangsa Indonesia dalam melaksanakan berbagai hal di semua sisi pembangunan
negara. Kebangkitan nasional, memotivasi abdi negara, penegak hukum, anggota
legislatif, kalangan dunia usaha, pelajar dan mahasiswa, para pekerja dan
seluruh rakyat, sadar bahwa dia hidup di sebuah negara yang memilki sejarah
teramat besar untuk selanjutnya mengabdi
pada kepentingan bangsa dan negara.
Jika
kita bahas satu persatu Hari Pahlawan bisa menjadi momentum bangkitnya
berbagai sektor di negara Indonesia. Dengan mengetahui bangkit seperti apa yang
harus kita lakukan bisa membuat kita tidak sekedar melakukan perayaan bangkit,
tapi juga bangkit yang membangun, bangkit yang mebuat perubahan, bangkit yang
bergerak untuk sebuah kemajuan.
Di bidang politik, semangat kebangkitan
nasional memicu kegiatan politik yang positif. Politik bukan hanya menjadi
ajang perebutan kekuasaan tapi, politik menjadi
tempat berperan aktifnya seluruh
komponen bangsa Indonesia dalam menyukseskan kegiatan pembangunan yang didasari
keinginan untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang adil, makmur dan
sejahtera.
Untuk bidang
ekonomi,kebangkitan nasional bisa diaplikasikan dengan meningkatkan kemampuan untuk menghasilkan berbagai produk
bermutu yang bernilai jual tinggi dan bisa disejajarkan dengan berbagai macam
produk impor. Hal ini akan meningkatkan perekonomian Indonesia. Indonesia akan
mampu berbicara banyak di dunia ekonomi dunia jika memiliki ekonomi negara yang
kuat.
Bidang
pendidikan juga harus bangkit dengan maksimal. Anggaran pendidikan yang sudah
ada kita maksimalkan dengan lebih baik. Pengawasan akan masalah dana harus
benar-benar teliti agar tidak ada lagi penyelewengan. Para siswa Indonesia
telah mampu berbicara banyak di olimpiade sains internasional. Sudah selayaknya
para ilmuan Indonesia juga berlaku sama, bahkan jika perlu mampu meraih nobel
demi mengharumkan Bangsa Indoensia. Kebangkitan nasional inilah momen untuk
mulai bangkit dan merubah dunia pendidikan Indonesia.
Tidak
kalah penting hari pahlawan yg berhubungan erat dengan kebangkitan nasional juga harus diikuti oleh kebangkitan negara
dalam bidang sosial budaya. Semangat kebangkitan nasional dalam bidang ini
harus sangat kokoh, karena ini merupakan pilar yang paling penting dalam
menunjukkan sebuah jatidiri bangsa. Kehidupan social yang kuat dan senantiasa
mengedepankan persatuan dan kesatuan, kebersamaan dan gotong royong akan
membuat Indonesia hidup dalam perdamaian dan kekuatan dalam negeri yang sangat
kokoh tanpa harus diselingi konflik-konflik horizontal.
Budaya
Indonesia harus bisa tetap kita lesatarikan, agar tidak mudah diambil alih oleh
negara lain, dalam benak kita bersama harus tertanam bahwa budaya Indonesia
kita jaga , bukan untuk kita saja, tapi
untuk anak cucu kita nantinya. Betapa sedihnya nenek moyang kita terdahulu apabila tahu suatu saat Tari
Pendet, Tari Piring, Tari Saman,dan lainnya diambil alih oleh bangsa lain, dan
diakui mereka sebagai budaya mereka.
Peringatan
hari pahlawan telah berlangsung ,tidak selayaknya bangsa Indonesia
harus menyaksikan tindakan munafik atas rasa kebersamaan, persatuan dan
kesatuan serta sikap gotong royong. Sifat yang selama ini menjadi ciri khas Indonesia
dan digembor-gemborkan setiap saat. Sudah cukup rakyat Indonesia menjadi saksi
tindak kekerasan, aksi premanisme, korupsi dan berbagai penyelewengan yang
dilakukan oleh orang-orang yang justru mengemban amanat rakyat di posisi yang
terhormat, krisis kepercayaan terhadap pemimpin, dan segala macam jenis
tawuran.
Jika
semua hal di atas dapat dilakukan oleh bangsa Indonesia dan menjadikan tanggal
10 November 2012 lalu sebagai momentum awal
pergerakan menuju kebangkitan yang membawa perubahan, maka saya yakin beberapa
tahun ke depan, tidak akan ada lagi tulisan seperti ini, yang ada hanyalah
tulisan tentang berbagai keberhasilan rakyat Indonesia.
Majunya pahlwan-pahlawan baru Indonesia bukanlah sebuah mimpi, menjadi negara hebat bukanlah sebatas angan.
Semua bisa terwujud jika semua elemen yang ada dapat memilki satu tekad menuju
perubahan tersebut. Semoga ke depan bangsa Indonesia bisa menata kehidupan yang
lebih baik sesuai dengan cita-cita perjuangan bangsa sebagaimana yang tercantum
dalam pembukaan UUD 1945 dan sesuai dengan Pancasila.
10 nevember bukan hanya tanggal bersejarah yang harus diperingati, tapi 10 november menjadi
“alarm” yang setiap tahun mengingatkan kita agar bangun dan bangkit, bukan
hanya bangkit, tapi juga berubah untuk lebih baik. Jangan sampai budaya kita
kembali diambil alih oleh negara lain di tahun-tahun selanjutnya setelah kita
memeringati Hari Pahlwan ini..
Langganan:
Postingan (Atom)





